Tebing Tinggi, Sumatera Utara – Sebuah kecelakaan tragis merenggut delapan nyawa manusia di perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang terletak di Jalan Abdul Hamid, Kota Tebing Tinggi, pada hari Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Sebuah minibus yang mengangkut sembilan penumpang saat itu tertabrak oleh kereta api Sri Bilah Utama yang sedang dalam perjalanan rutin, menyebabkan delapan orang meninggal dunia secara instan di lokasi kejadian, sementara satu penumpang lainnya ditemukan dalam kondisi kritis.
Menurut keterangan saksi mata yang berada di sekitar lokasi perlintasan, minibus tersebut berasal dari arah Sungai Sigiling dengan tujuan akhir Bagelen, dan sedang dalam proses melintasi rel kereta api saat insiden terjadi. Beberapa warga sekitar mengaku telah berusaha memberikan peringatan kepada pengemudi minibus dengan cara membunyikan klakson dan berteriak, namun diduga tidak terdengar atau tidak diperhatikan, sehingga kecelakaan yang memilukan ini tidak dapat dihindari.
Benturan antara kereta api dan minibus terjadi dengan kekuatan yang sangat besar, hingga menyebabkan kendaraan roda empat tersebut terseret sejauh kurang lebih 500 meter sebelum kereta api akhirnya dapat berhenti total. Proses evakuasi korban yang dilakukan oleh tim penyelamat dari Kepolisian Kota Tebing Tinggi, PMI, dan petugas kesehatan berlangsung secara dramatis, mengingat sebagian korban terjepit di dalam badan minibus yang telah mengalami kerusakan parah dan membentuk bengkok tidak beraturan. Seluruh korban, baik yang meninggal maupun yang luka-luka, telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Tebing Tinggi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kepala Kepolisian Resor Kota Tebing Tinggi, Kombes Pol. Hadi Susanto, menyampaikan bahwa pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti dari kecelakaan tersebut. Pemeriksaan terhadap kondisi jalur kereta api, kecepatan kereta pada saat kejadian, serta kondisi fisik pengemudi minibus sedang dilakukan secara menyeluruh.
Tragedi ini menjadi pengingat yang menyakitkan bagi seluruh masyarakat akan pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian saat melintasi perlintasan kereta api, terutama jenis perlintasan tanpa palang pintu yang tidak memiliki sistem sinyal atau pengatur lalu lintas otomatis. Pemerintah daerah juga menyampaikan akan mengevaluasi kembali kondisi seluruh perlintasan kereta api di wilayah Kota Tebing Tinggi untuk mencegah terjadinya kejadian serupa di masa depan.
Diedit oleh Rahmat Hidayat








